Kamis, 19 Januari 2012

keracunan hidrokarbon


  2.1       Pengertian Intoksikasi Hidrokarbon
Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon. Hidrokarbon banyak ditemukan di dalam minyak bumi, gas alam dan batubara.
Intoksikasi hidrokarbon biasanya terjadi karena anak menelan hasil penyulingan minyak bumi, seperti bensin, minyak tanah, pengencer cat dan hidrokarbon terhalogenasi (misalnya karbon tetraklorida yang banyak ditemukan di dalam larutan dan pencair dry-cleaning atau etilen diklorida).
Kematian banyak terjadi pada remaja yang dengan sengaja menghirup atsiri. Sejumlah kecil bahan tersebut (terutama dalam bentuk cairan yang mudah mengalir) bisa masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Cairan yang lebih kental, yang digunakan pada semir furnitur, sangat berbahaya karena bisa menyebabkan iritasi dan pneumonia aspirasi yang berat.

  2.2       Patofisiologi intoksikasi hidrokarbon
Efek toksis terpenting dari hidrokarbon adalah pneumonitis aspirasi. Studi pada binatang menunjukkan toksisitas pada paru > 140 x dibanding pada saluran pencernaan. Aspirasi umumnya terjadi akibat penderita batuk atau muntah. Akibat viskositas yang rendah dan tekanan permukaan, aspirat dapat segera menyebar secara luas pada paru. Penyebaran melalui penetrasi pada membran mukosa, merusak epithel jalan napas, serta alveoli, dan menurunkan jumlah surfactan sehingga memicu terjadinya perdarahan, edema paru, ataupun kolaps pada paru. Jumlah < 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan kerusakan yang bermakna. Kematian dapat terjadi karena aspirasi sebanyak + 2,5 ml pada paru (pada lambung + 350 ml). Selain itu, jumlah 1 ml/kg BB hidokarbon dapat menyebabkan depresi CNS ringan–sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar adrenal, ginjal, dan abnormalitas eritrosit. Namun efek sistemik tersebut jarang karena tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan. Hidrokarbon juga diekskresikan lewat urin.

  2.3       Tanda khusus pada intoksikasi hidrokarbon
Intoksikasi hidrokarbon memiliki tanda khas, tanda khususnya adalah:
2.4.1   Bau:
a.       Aceton: Methanol, isopropyl alcohol, acetyl salicylic acid
b.      Coal gas: Carbon monoksida
c.       Buah per: Chloralhidrat
d.      Bawang putih: Arsen, fosfor, thalium, organofosfat
e.       Alkohol: Ethanol, methanol
f.       Minyak: Minyak tanah atau destilat minyak
2.4.2   Kulit:
a.         Kemerahan: Co, cyanida, asam borax, anticholinergik
b.        Berkeringat: Amfetamin, LSD, organofosfat, cocain, barbiturat
c.         Kering: Anticholinergik
d.        Bulla: Barbiturat, carbonmonoksida
e.         Ikterus: Acetaminofen, carbontetrachlorida, besi, fosfor, jamur
f.         Purpura: Aspirin,warfarin, gigitan ular
g.        Sianosis: Nitrit, nitrat,fenacetin, benzocain
2.4.3   Suhu tubuh:
a.         Hipothermia: Sedatif hipnotik, ethanol, carbonmonoksida,clonidin, fenothiazin
b.        Hiperthermia: Anticholinergik, salisilat, amfetamin, cocain, fenothiazin, theofilin.
2.4.4   Tekanan darah:
a.         Hipertensi: Simpatomimetik, organofosfat, amfetamin .
b.        Hipotensi: Sedatif hipnotik, narkotika, fenothiazin, clonidin, beta-blocker
2.4.5   Nadi:
a.         Bradikardia: Digitalis, sedatif hipnotik, beta-blocker, ethchlorvynol.
b.        Tachikardia: Anticholinergik, amfetamin, simpatomimetik, alkohol, cokain, aspirin, theofilin
c.         Arithmia: Anticholinergik, organofosfat, fenothiazin, carbonmonoksida, cyanida, beta-blocker
2.4.6   Selaput lendir
a.         Kering: Anticholinergik
b.        Salivasi: Organofosfat, carbamat
c.         Lesi mulut: Bahan korosif, paraquat
d.        Lakrimasi: Kaustik, organofosfat, gas irritan
2.4.7   Respirasi:
a.         Depressi: Alkohol, narkotika, barbiturat, sedatif hipnotik
b.        Tachipnea: Salisilat, amfetamin, carbonmonoksida
c.         Kussmaull: Methanol, ethyliene glycol, salisilat
d.        Oedema paru: Salisilat, narkotika, simpatomimetik
2.4.8   Susunan syaraf pusat:
a.         Kejang: Amfetamin, fenothiazin, cocain, camfer, tembaga, isoniazid, organofosfat, salisilat, antihistamin, propoxyphene.
b.        Miosis: Narkotika (kecuali demerol dan lomotil), fenothiazin, diazepam, organofosfat (stadium lanjut), barbiturat,jamur.
c.         Midriasis: Anticholinergik,simpatomimetik,cocain,methanol,lSD, glutethimid.
d.        Buta, atropi optik: Methanol
e.         Fasikulasi: Organofosfat
f.         Nistagmus: Difenilhidantoin, barbiturat, carbamazepim, carbonmonoksida, ethanol
g.        Hipertoni: Anticholinergik, fenothiazin, strichnyn
h.        Mioklonus,rigiditas: Anticholinergik, fenothiazin, haloperidol
i.          Delirium/psikosis: Anticholinergik, simpatomimetik, alkohol, fenothiazin, logam berat, marijuana, cocain, heroin, metaqualon
j.          Koma: Alkohol, anticholinergik, sedative hipnotik, carbonmonoksida, Narkotika,  anti depressi trisiklik, salisilat, organofosfat
k.        Kelemahan, paralise: Organofosfat, carbamat, logam berat
2.4.9    Saluran pencernaan:
a.         Muntah, diare: Besi, fosfat, logam berat, jamur, lithium, flourida, organofosfat nyeri perut.

  2.4       Efek toksik dari hidrokarbon
Efek pada paparan akut hidrokarbon :
a.       Kontak kulit: kering, dapat iritasi, menyebabkan rash
b.      Absorbsi kulit: jarang
c.       Kontak mata: iritasi, dapat menyebabkan kerusakan permanen
d.      Inhalasi: iritasi, sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi
e.       Ingesti: sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi
Efek pada paparan kronis hidrokarbon:
a.       Secara umum: kulit pecah-pecah, dermatitis, kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal, dan abnormalitas eritrosit
b.      Karsinogenik: terlihat pada studi eksperimental pada tikus. Pada manusia tidak ada data yang tercatat
c.       Sistem reproduksi: tidak ada data yang tercatat

  2.5       Gejala dari intoksikasi hidrokarbon
Gejala intoksikasi minyak tanah dapat dibagi menjadi gejala inhalasi dan gejala akibat minyak tanah yang terminum. Gejala inhalasi dapat menimbulkan euphoria yang menyerupai intoksikasi alkohol.
a.    Gejala iritatif terhadap faring, esophagus, lambung dan usus halus dan dapat menyebabkan perasaan terbakar pada mulut, tenggorokan, esophagus dan ulkus pada mukosa.
b.    Gejala fibriasi ventrikel, walaupun jarang terjadi. Fibriasi ventrikel ini disebabkan karena minyak tanah menyebabkan sensitifasi jantung terhadap katekolamin eksogen dan endogen (epinefrin, norepinefrin).
c.    Gejala pada susunan syaraf pusat berupa mengantuk atau koma yang terjadi segera setelah terminum minyak tanah.
d.   Gejala pada paru berupa bronkopneumonia.
e.     Bronkopneumonia ini bukan disebabkan oleh minyak tanah yang di absorbs melalui oral atau ekskresi minyak tanah melalui paru, tetapi akibat aspirasi trakeobronkial
Pada intoksikasi minyak tanah yang berat dapat pula dilihat kelainan pada urin berupa albuminuria. Kematian biasanya timbul sebagai akibat asfiksia

  2.6       Penatalaksanaan intoksikasi hidrokarbon
v  Penatalaksanaan umum keracunan
1.    Mencegah/menghentikan penyerapan racun
a.     Racun melalui mulut (ditelan/tertelan)
1)   Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, telor mentah atau norit).
2)   Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara :
a)    Dimuntahkan:
Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam atau sirup ipekak.
Kontraindikasi: cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran menurun dan penderita kejang.
b)   Bilas lambung:
·      Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah.
·      Pasang NGT dan bilas dengan: air, larutan norit, Natrium bicarbonat 5 %, atau asam asetat 5 %.
·      Pembilasan sampai 20 X, rata-rata volume 250 cc.
·      Kontraindikasi: keracunan zat korosif & kejang.
c)    Bilas Usus Besar: bilas dengan pencahar, klisma (air sabun atau gliserin).
b.    Racun melalui melalui kulit atau mata:
1)   Pakaian yang terkena racun dilepas
2)   Cuci/bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat penetralisir (asam cuka/bicnat encer).
3)   Hati-hati: penolong jangan sampai terkontaminasi.
c.    Racun melalui inhalasi:
1)   Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.
2)   Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang terhisap, jangan menggunakan metode mouth to mouth.
d.   Racun melalui suntikan:
1)   Pasang torniquet proximal tempat suntikan, jaga agar denyut arteri bagian distal masih teraba dan lepas tiap 15 menit selama 1 menit.
2)   Beri epinefrin 1/1000 dosis: 0,3-0,4 mg subkutan/im.
3)   Beri kompres dingin di tempat suntikan.
2.    Mengeluarkan racun yang telah diserap
Dilakukan dengan cara:
a.       Diuretic: lasix, manitol
b.      Dialisa
c.       Transfusi exchange
3.    Pengobatan simptomatis atau mengatasi gejala
a.       Gangguan sistem pernafasan dan sirkulasi: RJP
b.      Gangguan sistem susunan saraf pusat:
1)   Kejang: beri diazepam atau fenobarbital
2)   Odem otak: beri manitol atau dexametason.
4.    Pengobatan spesifik dan antidotum
a.       Keracunan Asam atau Basa Kuat (Asam Klorida, Asam Sulfat, Asam Cuka Pekat, Natrium Hidroksida, Kalium Hidroksida).
1)   Dapat mengenai kulit, mata atau ditelan.
2)   Gejala: nyeri perut, muntah dan diare
3)   Tindakan:
a)   Keracunan pada kulit dan mata:
·      irigasi dengan air mengalir
·      beri antibiotik dan antiinflamasi.
b)   Keracunan ditelan atau tertelan:
·      asam kuat dinetralisir dengan antasida
·      basa kuat dinetralisir dengan sari buah atau cuka
·      jangan bilas lambung atau tindakan emesis
·      beri antibiotik dan antiinflamasi
b.      Keracunan Alkohol atau Minuman Keras
1)   Gejala: emosi labil, kulit memerah, muntah, depresi pernafasan, stupor sampai koma.
2)   Tindakan:
a)   Bilas lambung dengan air
b)   Beri kopi pahit
c)   Infus glukosa: mencegah hipoglikemia
c.       Keracunan Arsenikum
1)   Gejala: mulut kering, kulit merah, rasa tercekik, sakit menelan, kolik usus, muntah, diare, perdarahan, oliguri, syok.
2)   Tindakan:
a)   Bilas lambung dengan Natrium karbonat/sorbitol
b)   Atasi syok dan gangguan elektrolit
c)   Beri BAL (4-5 Kg/BB) setiap 4 jam selama 24 jam pertama. Hari kedua sampai ketiga setiap 6 jam (dosis sama). Hari keempat s/d ke sepuluh dosis diturunkan.
d.      Keracunan Tempe Bongkrek
1)   Gejala: mengantuk, nyeri perut, berkeringat, dyspneu, spasme otot, vertigo sampai koma.
2)   Tindakan: terapi simptomatik.
e.       Keracunan Makanan Kaleng (Botulisme)
1)   Gejala: gangguan penglihatan, reflek pupil (-), disartri, disfagi, kelemahan otot lurik, tidak ada gangguan pencernaan dan kesadaran.
2)   Tindakan:
a)   Bilas lambung dengan norit
b)   Beri ATS 10.000 unit.
c)   Ber Fenobarbital 3 x 30-60 mg / oral.
f.       Keracunan Ikan
1)   Gejala: panas sekitar mulut, rasa tebal pada anggota badan, mual, muntah, diare, nyeri perut, nyeri sendi, pruritus, demam, paralisa otot pernafasan.
2)   Tindakan: Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.
g.      Keracunan Jamur
1)   Gejala: air mata, ludah dan keringat berlebihan, mata miosis, muntah, diare, nyeri perut, kejang, dehidrasi, syok sampai koma.
2)   Tindakan:
a)   Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.
b)   Injeksi Sulfas Atropin 1 mg / 1-2 jam
c)   Infus Glukosa.
h.      Keracunan Jengkol
1)   Gejala: kolik ureter, hematuria, oliguria–anuria, muncul gejala Uremia.
2)   Tindakan:
a)   Infus Natrium bikarbonat
b)   Natrium bicarbonat tablet : 4 x 2 gr/hari
i.        Keracunan Singkong
1)   Gejala: Mual, nyeri kepala, mengantuk, hipotensi, takikardi, dispneu, kejang, koma (cepat meninggal dalam waktu 1-15 menit).
2)   Tindakan:
a)   Beri 10 cc Na Nitrit 5 % iv dalam 3 menit
b)   Beri 50 cc Na Thiosulfat 25 % iv dalam 10 menit.
j.        Keracunan Marihuana atau Ganja
1)   Gejala: halusinasi, mulut kering, mata midriasis
2)   Tindakan: simptomatik, biasanya sadar setelah dalam 24 jam pertama.
k.      Keracunan Formalin
1)   Gejala:
a)   Inhalasi: iritasi mata, hidung dan saluran nafas, spasme laring, gejala bronchitis dan pneumonia,
b)   Kulit: iritasi, nekrosis, dermatitis.
c)   Ditelan/tertelan: nyeri perut, mual, muntah, hematemesis, hematuria, syok, koma, gagal nafas.
2)   Tindakan: bilas lambung dengan larutan amonia 0,2 %, kemudian diberi minum norit/air susu.
l.        Keracunan Barbiturat
1)   Gejala: mengantuk, hiporefleksi, bula, hipotensi, delirium, depresi pernafasan, syok sampai koma.
2)   Tindakan:
a)   Jangan lakukan emesis atau bilas lambung
b)   Bila sadar beri kopi pahit secukupnya
c)   Bila depresi pernafasan, beri amphetamin 4-10 mg intra muskular.
m.    Keracunan Amfetamin
1)   Gejala: mulut kering, hiperaktif, anoreksia, takikardi, aritmia, psikosis, kegagalan pernafasan dan sirkulasi.
2)   Tindakan:
a)   Bilas lambung
b)   Klorpromazin 0,5-1 mg/kg BB, dapat diulang tiap 30 menit
c)   Kurangi rangsangan luar (sinar, bunyi)
n.      Keracunan Aminopirin (Antalgin)
1)   Gejala: gelisah, kelainan kulit, laborat : agranolositosis
2)   Tindakan:
a)   Beri antihistamin im/iv
b)   Beri epinefrin 1 %o 0,3 cc sub kutan.
o.      Keracunan Digitalis (Digoxin)
1)   Gejala: anoreksia, mual, diare, nadi lambat, aritmia dan hipotensi
2)   Tindakan:
a)   Propranolol
b)   KCl iv
p.      Keracunan Insektisida Gol.Organofosfat (Diazinon, Malathion)
1)   Gejala: mual, muntah, nyeri perut, hipersalivasi, nyeri kepala, mata miosis, kekacauan mental, bronchokonstriksi, hipotensi, depresi pernafasan dan kejang.
2)   Tindakan:
a)   Atropin 2 mg tiap 15 menit sampai pupil melebar
b)   Jangan diberi morfin dan aminophilin.
q.      Keracunan Insektisida Gol.(Endrin, DDT)
1)   Gejala: muntah, parestesi, tremor, kejang, edem paru, vebrilasi s/d kegagalan ventrikel, koma
2)   Tindakan:
a)   Jangan gunakan epinefrin
b)   Bilas lambung hati-hati
c)   Beri pencahar
d)  Beri Kalsium glukonat 10 % 10 cc iv pelan-pelan.
r.        Keracunan Senyawa Hidrokarbon (Minyak Tanah, Bensin)
1)   Gejala:
a)   Inhalasi: nyeri kepala, mual, lemah, dispneu, depresi pernafasan
b)   Ditelan/tertelan: muntah, diare, sangat berbahaya bila terjadi aspirasi (masuk paru)
2)   Tindakan:
a)   Jangan lakukan emesis
b)   Bilas lambung hati-hati
c)   Beri pencahar
d)  Depresi pernafasan: Kafein 200-500 mg im
e)   Pengawasan: kemungkinan edem paru.
s.       Keracunan Karbon Mono-oksida (CO)
1)   Gejala: kulit dan mukosa tampak merah terang, nyeri dan pusing kepala, dispneu, pupil midriasis, kejang, depresi pernafasan sampai koma.
2)   Tindakan:
a)   Pasang O2 bertekanan
b)   Jangan gunakan stimulant
c)   Pengawasan: kemungkinan edem otak
t.        Keracunan Narkotika (Heroin, Morfin, Kodein)
1)   Gejala: mual, muntah, pusing, klulit dingin, pupil miosis, pernafasan dangkal sampai koma.
2)   Tindakan:
a)   Jangan lakukan emesis
b)   Beri Nalokson 0,4 mg iv tiap 5 menit (atau Nalorpin 0,1 mg/Kg BB.
Obat terpilih Nalokson (dosis maximal 10 mg), karena tidak mendepresi pernafasan, memperbaiki kesadaran, hanya punya efek samping emetik.
Karenanya pada penderita koma tindakan preventif untuk aspirasi harus disiapkan.
v  Penatalaksanaan keracuanan hidrokarbon
Harus diingat bahwa obat yang dapat menimbulkan muntah di kontra indikasikan pada intoksikasi minyak tanah ini. Juga sebaiknya dihindarkan mengingat bahaya inhalasi yang dapat ditimbulkan. Pemakaian adrenalin sebaiknya dihindarkan, mengingat miokardium yang sudah sensitive terhadap intoksikasi minyak tanah. Alkohol dan minyak mineral jangan diberikan sebab mempermudah absorbs minyak tanah. Terapi yang sebaiknya adalah sebagai berikut:
a.       Terapi suportif
b.      Pemberian O2
Pemberian oksigen kalau ada tanda-tanda distres nafas atau kalau berat bisa dilakukan intubasi dan pemberian nafas buatan dengan ventilator.
c.       Kalau perlu lakukan i.v.f.d.
d.      Antibiotika sebagai profilaksis
Pemberian antibiotika masih merupakan kontroversi pada intoksikasi hidrokarbon. Antibiotika hanya diberikan bila keadaan penderita memang sangat berat, membutuh kan bantuan pernafasan dengan alat atau anak-anak dengan immunocompromized.
Bila gejala depresi susunan syaraf pusat jelas terlihat, dapat diberikan kafein 200-500 mg dengen intra muskuler.

  2.7       Prognosis intoksikasi hidrokarbon
Prognostic Score :
Dilakukan sebagai panduan dalam terapi dan menentukan prognosis penderita. Parameter yang diambil adalah panas badan, malnutrisi berat, distress respirasi, dan gejala neurologis.
Parameter
Temuan Klinis
Point
Panas badan
( - )
0
( + )
1
Malnutrisi berat
( - )
0
( + )
1
Distress respirasi
( - )
0
( + ) tanpa sianosis
2
( + ) dengan sianosis
4
Gejala neurologis
( - )
0
( + ) tanpa konvulsi
2
( + ) dengan konvulsi
4
Prognostic Score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)
Interpretasi :
Skor minimum = 0
Skor maksimum = 10
Skor > 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi
Skor > 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian
skor < 7 mengindikasikan anak akan selamat.

  2.8       Konsep asuhan keperawatan pada klien dengan intoksikasi hidrokarbon.
A.  Pengkajian
1.   Identitas  klien (nama,  umur biasanya sering terjadi pada anak usia prasekolah sampai usia sekolah yaitu pada usia 1–4 tahun,  jenis  kelamin,  agama,  suku bangsa atau ras,  pendidikan,  nama orang tua  dan  alamat)
2.   Keluhan Utama
Keluhan utama yaitu pada tanda-tanda vital, bau napas, tingkat kesadaran, perubahan kulit, dan tanda-tanda neurologis.
3.   Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan riwayat yang cermat dan terperinci mengenai apa, kapan, dan seberapa banyak zat toksik yang telah masuk ke tubuh dan adanya bukti-bukti racun (wadah, tanaman, muntahan).
4.   Pemeriksaan fisik persistem
Ø Pernapasan: muntah, tersedak, batuk, takipnea, bradipnea, sianosis, mengorok
Ø Integumen: kulit pucat, kemerahan, bukti luka bakar, nyeri, berkeringat, hipertermia, hipotermia, asidosis metabolik
Ø Membran mukosa: didapatkan bukti iritasi, perubahan warna putih, perubahan warna merah, bengkak, bibir kering.
Ø  Neuromuskular: kelemahan, gerakan involunter, ataksia, pupil dilatasi, pupil konstriksi, kejang
Ø  Perubahan sensori: ansietas, agitasi, halusinasi, konfusi, letargi, koma
Ø  Kardiovaskular: aritmia, peningkatan tekanan darah, penurunan tekanan darah, takikardia, bradikardia, syok
Ø  GI: salivasi, ketidakmampuan membersihkan sekret, mual muntah, diare, konstipasi, nyeri abdomen
Ø  Ginjal: oliguria, hematuria
B.  Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
2.      Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas hidrokarbon, proses inflamasi.
3.      Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi, kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi.
4.      Koping keluarga tidak efektif (tidak mampu) berhubungan dengan kerentanan pribadi anggota keluarga, krisis situasi, sosial.
5.      Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis,dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
C.  Rencana Asuhan Keperawatan
Ø  Diagnosa 1:
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
Ö Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam diharapkan Tidak terjadi kekurangan cairan
Ö Kriteria evaluasi: Keseimbangan cairan adekuat
-       Tanda-tanda vital stabil
-       Turgor kulit stabil
-       Membran mukosa lembab
-       Pengeluaran urine normal 1–2 cc/kg BB/jam
Ö Intervensi:
a.    Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan.
Rasional:  Dokumentasi yang akurat dapat membantu dalam mengidentifikasi pengeluran dan penggantian cairan.
b.   Monitor suhu kulit, palpasi denyut perifer.
Rasional:  Kulit dingain dan lembab, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pengantian cairan tambahan.
c.    Catat adanya mual, muntah, perdarahan
Rasional:  Mual, muntah dan perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada hipordemia.
d.   Pantau tanda-tanda vital
Rasional:  Hipotensi, takikardia, peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan (dehindrasi/hipovolemia).
e.    Berikan cairan parinteral dengan kolaborasi dengan tim medis.
Rasional:  Cairan parenteral dibutuhkan untuk mendukung volume cairan atau mencegah hipotensi.
f.    Kolaborasi dalam pemberian antiemetik
Rasional:  Antiemetik dapat menghilangkan mual atau muntah yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan  pemasukan.
g.   Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur.
Rasional:  Pemasukan peroral bergantung kepada pengembalian fungsi gastrointestinal.
h.   Pantau studi laboratorium (Hb, Ht)
Rasional :  Sebagai indikator/volume sirkulasi dengan kehilanan cairan.

Ø  Diagnosa 2:
Resiko pola napas tidak efektif  berhubungan dengan efek langsung toksisitas hidrokarbon, proses inflamasi.
Ö Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 30 menit diharapkan Pola napas klien kembali efektif
Ö Kriteria Evaluasi:
-  RR normal : 14 – 20 x/menit
-  Jalan napas bersih, sputum tidak ada
Ö Intervensi:
1.      Pantau tingkat, irama pernapasan & suara napas serta pola pernapasan
Rasional:  Efek hidrokarbon mendepresi SSP yang mungkin dapat mengakibatkan hilangnya kepatenan aliran udara atau depresi pernapasan, pengkajian yang berulang kali sangat penting karena kadar toksisitas mungkin  berubah-ubah secara drastis.
2.      Tinggikan kepala  tempat tidur
Rasional:  Menurunkan kemungkinan aspirasi, diagfragma bagian bawah untuk  untuk menigkatkan inflasi paru.
3.      Dorong untuk batuk atau nafas dalam
Rasional:  Memudahkan ekspansi paru & mobilisasi sekresi untuk mengurangi resiko atelektasis atau pneumonia.
4.      Auskultasi suara napas
Rasional:  Pasien beresiko atelektasis dihubungkan dengan hipoventilasi & pneumonia.
5.      Berikan O2 jika dibutuhkan
Rasional:  Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi pernapasan
6.      Kolaborasi untuk  sinar X dada, GDA
Rasional:  Memantau kemungkinan munculnya komplikasi sekunder seperti atelektasis atau pneumonia, evaluasi kefektifan dari usaha pernapasan.

Ø  Diagnosa 3:
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi, kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi.
Ö Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Koping individu efektif, tidak terjadi kerusakan perilaku adaptif dalam pemecahan masalah.
Ö Kriteria Evaluasi:
-   Klien mampu mengungkapkan kesadaran tentang penyalahgunaan bahan hidrokarbon.
-   Mampu menggunakan keterampilan koping dalam pemecahan masalah
-   Mampu melakukan hubungan atau interaksi sosial.
Ö Intervensi:
1.      Pastikan dengan apa pasien ingin disebut/dipanggil.
Rasional:  Menunjukkan penghargaan dan hormat
2.      Tentukan pemahaman situasi saat ini & metode koping sebelumnya terhadap masalah kehidupan.
Rasional:  Memberi informasi tentang derajar menyangkal, mengidentifikasi koping yang digunakan pada rencana perawatan saat ini
3.      Tetap tidak bersikap tidak menghakimi
Rasional:  Konfrontasi menyebabkan peningkatan agitasi yang menurunkan keamanan pasien.
4.      Berikan umpan balik positif
Rasional:  Umpan balik yang positif perlu untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan kesadaran diri dalam perilaku
5.      Pertahankan harapan pasti bahwa pasien  ikut serta dalam terapi
Rasional:  Keikut sertaan dihubungkan dengan penerimaan kebutuhan terhadap bantuan, untuk bekerja.
6.      Gunakan dukungan keluarga/teman sebaya untuk mendapatkan cara-cara koping.
Rasional:  Dengnan pemahaman dan dukungan  dari keluarga /teman sebaya dapat membantu menngkatkan kesadaran.
7.      Berikan informasi tentang efek meneguk hidrokarbon
Rasional:  Agar klien mengetahui efek samping yang berakibat fatal pada organ-organ vital bila menelan hidrokarbon
8.      Bantu pasien untuk menggunakan keterampilan relaksasi
Rasional:  Relaksasi adalah pengembangan cara baru menghadapi stress.

Ø  Diagnosa .4
Koping keluarga tidak efektif (tidak mampu) berhubungan dengan kerentanan pribadi anggota keluarga, krisis situasi, sosial.
Ö Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Koping keluarga efektif.
Ö Kriteria Evaluasi :
-   Mengungkapkan pengertian dinamika saling tergantung dan partisipasi dalam program individu dan keluarga.
-   Mampu mengidentifikasi perilaku koping tidak efektif.
-   Melakukanperubahan perilaku.
-   Mendukung terhadap program pengobatan & perawatan keluarga.
Ö Intervensi :
1.      Kaji riwayat keluarga, gali masing-masing peran anggota keluarga
Rasional :  Menentukan area untuk fokus, potensial perubahan.
2.      Tentukan pemahaman situasi saat ini dan metode sebelumnya dari koping dengan masalah kehidupan.
Rasional :  Memberikan dasar informasi sebagai dasar perencanaan saat ini
3.      Kaji tingkat situasi/fungsi saat ini dari anggota keluarga.
Rasional :  Mempengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi situasi.
4.      Tentukan luasnya perilaku mampu yang dibuktikan oleh anggota keluarga gali dengan individu dan pasien.
Rasional :  Mampu adalah melakukan untuk pasien apa yang perlu untuk dirinya sendiri, individu ditolong dan tidak ingin  merasa tidak tidak berdaya untuk menolong orang lain & megeluh perilaku yang sangat destruktif.
5.      Berikan informasi faktual pada pasien dan keluarga tentang efek perilaku penalahgunaan zat pada keluarga dan apa yang diharapkan setelah pulang
Rasional :  Banyak orang atau pasien yang tidak sadar tentang sifat bahan insektisida
6.      Dorong orang terdekat menyadari perasaan mereka sendiri dengan melihat situasi dengan perspektif dan objektivitas.
Rasional :  Bila anggota keluarga yang tergantung manjadi sadar  tentang tindakan mereka sendiri yang secara terus-menerus ada masalah, mereka perlu untuk memutuskan untuk mengubah diri mereka. Bila meeka berubah pasien dapat menghadapi konsekuensi tindakan pasien sendiri dan dapat memilih untuk mendapatkan yang baik.
7.      Kaji perasaan yang menimbulkan konflik individu.
Rasional :  Bermanfaat dalam membuat kebutuhan terapi untuk individu yang tergantung.

Ø  Diagnosa .5 :
Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis,dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Ö Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan Pasien mempunyai pengetahuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan penggunaan hidrokarbon.
Ö Kriteria Evaluasi :
-   Dapat mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya sendiri dan rencana pengobatan.
-   Berpartisipasi dalam program pengoabatan.
-   Perubahan perilaku untuk tidak melakukannya lagi.
Ö Intervensi :
1.      Sadari dan hadapi ansietas pasien dan anggota keluarga.
Rasional :  Ansietas dapat mempengaruhi kemampuan mendegar dan mengasimilasi informasi.
2.      Berikan peran aktif untuk pasien dalam proses belajar.
Rasional :  Belajar dapat ditingkatkan bila individu secara aktif terlibat.
3.      Berikan informasi tertulis dan  verbal untuk indikasi.
Rasional :  Membantu pasien membuat pilihan berdasarkan informasi tentang masa depan yang bermanfaat untuk pendekatan terapi lain.
4.      Kaji pengetahuan pasien tangtang situasi sendiri misalnya penyakit, perubahan kebutuhan dalam gaya hidup.
Rasional :  Membantu dalam merencanakan perubahan jangka panjang yang perlu untuk mempertahankan status pantanan.
5.      Pantau ulang kondisi & prognosis/ harapan masa depan.
Rasional :  Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
6.      Diskusikan efek zat yang digunakan.
Rasional :  Informasi akan membentu pasien memahami kemungkinan efek jangka panjang dari penggunaan zat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar